Teater sebagai Keseharian, Pelaku Teater sebagai Manusia

Pengantar
Teater beringsut dari kehidupan sehari-hari ke panggung, dengan kesengajaan menjadikannya tontonan. Keseharian dipampatkan, diukir, lalu dikemas, dipanggungkan. Setelah itu? Seringkali ia menghilang – seperti tepuk tangan penonton, yang segemuruh apa pun, pasti akan senyap. Selesai. Teater seringkali tak “pulang” ke keseharian. Penonton – dan parahnya lagi, kita, para pekerja teater sendiri – jarang membawanya pulang. Teater seakan ilusi sekejap dalam realitas kehidupan – terutama kehidupan kita, para pekerjanya. (Selanjutnya, yang dimaksud dengan “kita” dalam tulisan ini adalah “para pelaku teater”.)
 

Kini ada kecenderungan bahwa realitas teater berjarak (untuk tidak mengatakan: terpisah) dengan realitas keseharian. Jarak ini kian panjang ketika kita sendiri lebih percaya tepuk tangan penonton ketimbang menepuk pipi sendiri untuk mengetes apakah kita sedang berpijak di atas tanah atau mengawang di ruang ilusi. Melalui teater, kita menawarkan ide tentang tatanan yang ideal kepada penonton. Namun jarang kita bisa merumuskan apakah teater kita bisa menawarkan tatanan yang ideal bagi kehidupan pribadi kita sendiri. Apakah kita menggunakan teknik, ilmu atau metode teater kita untuk mengatasi pertengkaran dengan pasangan kita, misalnya? Apakah kita menggunakan teater untuk bertegur sapa dengan tetangga, atau untuk hal-hal remeh keseharian seperti menyapu halaman atau menggosok gigi? Ini hanyalah beberapa analogi untuk mempertanyakan apakah teater berperan dalam hidup keseharian kita. 

Tony Broer tengah berpentas di Kampus Pascasarjana ISI Jogja | Foto: Ibed

Apakah kita juga berteater pada saat gosok gigi? Ini adalah pertanyaan simbolis yang kami ketengahkan dalam Temen Ngobrol #1, sebuah forum yang kami (Kalanari Theatre Movement) inisiasi, guna mengobrolkan permasalahan di atas, yang kami anggap sebagai masalah yang sangat dasar bagi dunia teater kita saat ini. Kami menghadirkan Tony Broer sebagai temen ngobrol – semacam narasumber. Tony Broer bagi kami adalah seorang pekerja teater yang memutuskan untuk “meninggalkan” kelompoknya dan mengucapkan “bye bye” kepada panggung (konvensional), untuk memasukkan teater ke dalam dirinya sendiri, dan terikutserta ke mana pun ia melangkah: ke kampus, rumah, jalanan, bahkan kamar mandi.

Berikut review Temen Ngobrol #1 yang berlangsung di basecamp Kalanari Theatre Movement, Jl. Perintis, Jeblog, DK III, RT 01, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, pada Sabtu, 5 April 2014, 15.30 s.d. 18.00 WIB. Dimoderatori oleh Andika Ananda, partisipan yang hadir antara lain: Gandez Sholekah, Dayu Prismawati, Doni Agung Setiawan, Okta Firmansyah, Suryadi Sali, Moch. Badrul Munif, Anggie Qieruns, Dina Triastuti, Kedung Darma Romansyah, Eka Nusa Pertiwi, Rahman Yaasin Hadi, Ucup TM dan Ibed Surgana Yuga.

Panggung dan Keseharian yang Terpisah
Tony Broer bercerita tentang pengalaman keterlibatannya dengan Teater Payung Hitam selama hampir 25 tahun, yang menurutnya adalah suatu keterlibatan dan pertaruhan hidup yang sangat gila. Setiap hari, mulai bangun tidur hingga tidur kembali, ia dedikasikan dirinya untuk teater, buat Teater Payung Hitam. Namun dalam proses itu sesekali muncul pemikiran tentang kehidupan pribadinya, misalnya kapan ia harus menikah sedangkan kesehariaannya dijejali dengan teater. Dan menurutnya, ia harus menjawab pertanyaan kehidupan itu. Tony Broer mengalami kegalauan tentang bagaimana ternyata kehidupan teaternya berjarak atau terpisah dengan kehidupannya sebagai manusia sehari-hari. Teater belum bisa menjawab kebutuhan atau permasalah kehidupannya sebagai manusia yang harus menjalani hidup dari hari ke hari, bukan dari panggung ke panggung.

Banyak orang teater yang memerankan kehidupan di panggung, namun dalam keseharian menolak kehidupan: teater dibedakan dengan kehidupan, dunia teater dipisahkan dengan dunia keseharian. Tony Broer, yang kebetulan sedang menjalani kuliah doktoralnya di Sekolah Pascasarjana ISI Yogyakarta, bercerita tentang pengalamannya menghadapi tiga orang profesor yang hendak menguji proposal disertasinya. Tony Broer mengajukan karya “teater jalanan” yang telah menjadi kekhasannya sebagai disertasinya. Namun ketiga profesor itu rupanya tidak bisa menerimanya, karena bagi mereka itu bukan teater. Ini tentu saja masalah perangkat teori dalam keilmuan teater di Indonesia yang belum menyentuh subjek sebagaimana yang dilakukan oleh Tony Broer. Tradisi akademis teater di Indonesia masih berkutat pada teori konvensional yang diserap dari keilmuan Barat – yang bahkan di Barat sendiri itu sudah lama dianggap kuno dan tidak lagi mampu mewadahi fenomena perteateran mutakhir.

Tony Broer ketika menghadapi para profesor itu kemudian mengajukan pertanyaan yang sangat mendasar, “Menurut Bapak, saya duduk sekarang di depan Bapak ini akting atau tidak?” Mereka menjawab bahwa tidak mungkin Tony Broer akting, karena itu adalah forum akademis yang serius, suatu kehidupan yang riil, bukan pentas di atas panggung. Namun Tony Broer dengan tegas menyatakan bahwa ia sedang akting! “Jangan lupa, Pak, untuk datang ke sini dan bertemu dengan Bapak, saya di rumah sudah pilih-pilih kostum yang tepat untuk saya pakai. Saya telah mempersiapkan dan melatih apa yang akan saya ucapkan kepada Bapak, gestur saya akan seperti apa ketika menghadapi Bapak. Itu semua telah saya latih. Saya telah mempersiapkan keaktoran saya dari rumah dalam rangka pentas menghadapi Bapak sekarang di sini. Saya ini akting, Pak!” demikian kira-kira jawab Tony Broer.

Tony Broer mengajukan beberapa pertanyaan tentang hubungan pelaku teater dengan teater dan kehidupan. Ketika seorang aktor memainkan tokoh di atas pangggung, apakah ia tengah memainkan sebuah kehidupan? Kenapa untuk memerankan suatu tokoh aktor harus latihan? Padahal yang diperankan adalah kehidupan, dan aktor yang memerankannya adalah orang yang hidup, orang yang tengah menjalani kehidupan. Menurut Tony Broer, paradigma pemikiran aktor masih pada paradigma latihan untuk pentas. Padahal kehidupan adalah latihan paling agung. Pentas bisa terjadi kapan saja, di mana saja, dalam kehidupan. Pada saat itulah ilmu keaktoran itu harus diterapkan. Dengan demikian, seorang aktor akan dikatakan hebat bukan karena ia bagus bermain di atas panggung, namun ia bagus bermain dalam kehidupannya. Aktor sejati bukan gagah di panggung, namun hebat di hidup keseharian. Barangkali yang penting untuk ditanamkan adalah kesadaran bahwa aktor atau seniman itu adalah manusia.


Teater yang belum Membumi
Doni Agung Setiawan, salah seorang partisipan obrolan ini, menggugah dengan pertanyaan yang sedang digelisahkannya dua tahun terakhir: Teater ada gunanya atau nggak sih? Sekian lama melakoni teater, kemudian pertanyaan ini muncul dalam dirinya. Jangan-jangan apa yang dilakukannya selama ini dalam teater hanyalah kebohongan semata. Misalnya, berperan dalam pertunjukan yang membicarakan masalah sosial, padahal di kehidupan nyata masa bodoh dengan masalah sosial. Jangan-jangan ia menggunakan teater hanya untuk “eksis”, hanya untuk bergaya semata. Hingga kemudian ia mencoba untuk menjalani berbagai bentuk teater yang lebih dekat dengan kehidupan nyata, teater yang menjauhi bentuk-bentuk atau panggung-panggung konvensional. Namun sampai sekarang ia belum menemukan di bagian mana pentingnya teater. Menurutnya sangat sulit untuk menemukan sintesa antara teater dengan kehidupan sehari-hari.
 

Tony Broer mencoba memberikan jawaban tentang kenapa teater kita tidak menohok pada masalah masyarakat. Menurutnya karena yang kita gunakan adalah konsep teater Barat, sedang kita tidak hidup di Barat. Dari teater Barat kita mengenal naskah yang di dalamnya ada peran yang harus kita mainkan. Kalau teater masih berkutik pada permasalahan itu, kita akan selalu melakukan latihan hanya untuk melayani naskah, untuk berpentas. Kita memerankan sebaik mungkin tokoh yang ada di naskah, sehingga tepuk tangan penonton menjadi puncak capaian. Selesai. Kita hanya berkubang di sana. Sedang masyarakat semakin jauh dari kita. Ini seperti kita memainkan suatu peran dengan baik, namun diri kita sendiri tidak dalam keadaan baik-baik saja. Suryadi Sali, seorang partisipan obrolan yang lain, juga mengungkapkan tentang kegelisahannya tentang mengapa kita begitu getol mengadopsi pemikiran Barat untuk mendasari kerja teater kita. Padahal Barat mencoba menyimpulkan Timur tanpa mengalaminya. Kitalah yang mengalaminya.

Berdialog dengan Teater
Ketika berbagai pertanyaan tentang teater dan kehidupan pribadi muncul di benak Tony Broer di hampir 25 tahun keterlibatannya di Teater Payung Hitam, ia kemudian mencapai suatu titik kesadaran bahwa ia harus berdialog dengan teater dalam kehidupan pribadinya, bukan hanya dengan teater di Teater Payung Hitam. Teater bukan melulu masalah panggung, namun juga tentang kehidupan keseharian yang lebih luas dan riil. Tony Broer mengakui bahwa ia terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran Benny Yohanes (Benjon) dari Bandung. Menurutnya, Benjon-lah yang bisa membubarkan sebuah kelompok teater dengan indah. Membubarkan sebuah kelompok dengan kesadaran bahwa setiap individu yang tergabung dalam kelompok itu mesti kembali untuk berdialog dengan teater dalam diri masing-masing. Setiap individu memiliki kewajiban untuk membangun teaternya dalam diri masing-masing. Kesadaran inilah yang dijadikan dasar untuk membubarkan sebuah kelompok atau organisasi pekerja teater, bukan karena konflik yang terjadi dalam organisasi itu.

Cerita Moch. Badrul Munif, salah seorang partisipan dalam obrolan ini, barangkali bisa dijadikan contoh yang menarik, walaupun ini lebih mengarah pada teater sebagai media untuk penyembuhan patologi pribadi manusia. Ia menceritakan pengalamannya ketergantungan obat. Penempaan diri melalui latihan teater membuatnya bisa dengan pelan-pelan mengurangi ketergantungan, bahkan bisa sampai taraf sembuh. Ini dilakukannya hanya dengan latihan dengan keteguhan dan mencoba untuk menerapkan berbagai disiplin latihan teater dalam kehidupannya. Moch. Badrul Munif mencoba berdialog dengan teater, kemudian memproyeksikannya untuk tujuan praktis pengobatannya.

Kita jarang menghayati kehidupan sehari-hari kita. Kita sering membiarkannya mengalir begitu saja tanpa memetik makna darinya, termasuk terhadap hal-hal kecil seperti gosok gigi. Kita jarang menyadari setiap detik jalan kehidupan kita sehingga kita bisa mengambil makna darinya. Ketika kita bisa menghayati peristiwa kecil saja, seperti menggosok gigi, lalu kita memaknainya sebagaimana peristiwa teater di atas panggung, dengan menggunakan perangkat ilmu keaktoran kita, maka makna yang kaya akan kita temukan. Kita bisa hidup dengan bijak. Ini memerlukan kepekaan dan kesadaran kita sebagai seniman teater. Tema kontekstualisasi teater dalam hidup keseharian ini sangat penting untuk terus diwacanakan dan dipraktikkan agar teater tidak menjelma jadi “kebohongan” hidup ditengah perjuangannya mengusung nilai-nilai utama kehidupan. Kalanari Theatre Movement sebagai lembaga yang meniatkan diri bukan sekadar sebagai pencipta karya teater, namun juga memiliki visi dan misi mengembangkan kebudayaan, mencoba ikutserta mengembangkan dan mempraktikkan wacana ini.

Jogja, April 2014 


Ibed Surgana Yuga

Share:

0 komentar